Langsung ke konten utama

Model-Model Pembelajaran



1.      a. Ciri-ciri model pembelajaran
·         Beberapa model tertentu ( model penelitian kelompok) dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis;
·         Memiliki tujuan atau misi pendidikan tertentu;
·         Dirancang untuk mengembangkan proses berfikir induktif ( pada model berfikir induktif);
·         Dapat digunakan sebagai pedoman dalam memperbaiki kegiatan belajar mengajar dikelas;
·         Terdiri dari beberapa bagian (urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), adanya prinsip-prinsip reaksi, sistem sosial, sistem pendukung) yang dapat digunakan oleh guru seagai pedoman praktis saat melaksanakan suatu model pembelajaran;
·         Model-model yang diterapkan dalam pembelajaran akan memberikan dampak, dampak tersebut berupa dampak pembelajaran (hasil belajar yang dapat diukur) dan dampak pengiring (hasil belajar jangka panjang).

b.   Empat jenis model pembelajaran berdasarkan teori
1. ` Model Interaksi Sosial, model pembelajaran ini didasari oleh teori pembelajaran Gestalt yaitu field-theory, model interaksi sosial ini menitik beratkan pada hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat luas (learning to life together), karena model ini didasari oleh teori pembelajaran Gestalt maka pokok pandangan dari model ini adalah objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna bila materi diberikan secara utuh bukan bagian-bagian.

2.   Model Pemrosesan Informasi, model ini berdasarkan teori belajar kognitif (Piagent) dan berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan informasi merujuk pada cara mengumpulkan/ menerima stimuli dari lingkungan (misalnya: mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep serta menggunakan simbol verbal dan visual). Pelopor dari teori ini adalah Robert Gagne (1985). Beliau berasumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkemangan. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari : (1) informasi verbal; (2) kecakapan intelektual; (3) strategi kognitif; (4) sikap; (5) kecakapan motorik. Strategi dari model ini meliputi: mengajar induktif, latihan inquiry, inquiry keilmuan, pembentukan konsep, model pengembangan, dan Advance Organizer Model.

3.   Model Personal (Personal Models), model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu teori yang berorientasi terhadap pengembangan diri individu, yang menjadi perhatian utama dari teori ini adalah emosional siswa untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini menjadikan pribadi siswa yang mampu membentuk hubungan yang harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif, model ini juga berorientasi pada individu dan perkembangan keakuan. Teori ini berpendapat bahwa guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar siswa bebas dalam belajar dan mengembangkan dirinya, baik emosional maupun intelektual. Strategi pembelajaran dari teori ini adalah: Pembelajaran nondirektif, latihan kesadaran, sinetik, sistem konseptual.

4.   Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral), model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu betujuan mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement), model ini lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perilaku yang tidak bisa diamati lainnya, karakteristik dari model ini berada dalam hal penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari oleh siswa yang lebih efisien dan berurutan. Fase dalam model ini ada empat, yaitu: fase mesin pembelajaran (CAI dan CBI); penggunaan media; pengajaran berprograma (liner dan branching); dan operant conditioning & operant reinforcement. Implementasi dari model ini adalah meningkatkan ketelitian dari pengucapan seorang anak. Sedangkan sang guru haruslah selalu perhatian terhadap tingkah laku belajar dari murid-muridnya.

c. Tiga model desain pembelajaran disertai dengan langkah-langkah pelaksanaannya
1. Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), model ini adalah suatu sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu suatu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri dari sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara itu, fungsi model ini adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Langkah-langkah dari pelaksanaan model ini adalah:
·         Merumuskan tujuan pembelajaran, yaitu tujuan pembelajaran khusus yang berupa rumusan yang jelas dan operasional mengenai kemampuan atau kompetemsi yang diharapkan dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.
·         Mengembangkan alat evaluasi, yaitu tes yang dilakukan yang fungsinya untuk menilai sejauh mana kemampuan siswa, pada model PPSI evaluasi dilakukan saat tujuan pembelajaran khusus telah ditetapkan.
·         Menentukan kegiatan belajar mengajar, yaitu kegiatan yang akan dilakukan agar tujuan yang diinginkan tercapai, setelah kegiatan ditetapkan perlu dirumuskan pokok-pokok mteri yang akan diberikan, sesuai dengan kegiatan yang telah ditetapkan.
·         Merencanakan program kegiatan belajar mengajar, titik tolaknya adalah suatu pelajaran yang diambil dari kurikulum yang telah ditetapkan jumlah jam/SKS-nya dan diberikan pada kelas dalam semester tertentu. Pendekatan dan metode harus sesuai tujuan dan materi yang telah ditetapkan, termasuk pelaksanaan evaluasi.
·         Pelaksanaan, langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah mengadakan Pre-Test (tes awal), menyampaikan materi pelajaran, mengadakan Pos-Test (test akhir).

2. Model Gerlach & Ely, model ini adalah model yang melihat umpan balik dari siswanya setelah siswanya melakukan evaluasi.
     Langkah-langkah pelaksanaan model ini adalah:
·         Spesifikasi isi pokok bahasan (spesification of content);
·         Spesifikasi tujuan pembelajaran (specification of objectives);
·         Pengumpulan dan penyarinagan data tentang siswa (assessment of entering behaviors);
·         Penentuan cara pendekatan, metode, dan teknik mengajar (determination of strategy);
·         Pengelompokan siswa (organization of group);
·         Penyediaan waktu (allocation of time);
·         Pengaturan ruangan (allocation of space);
·         Pemilihan media/sumber belajar (selection of resources);
·         Evaluasi (evaluation of performance);
·         Analisis umpan balik (analysis of feedback).

3. Model Jerold E. Kemp, model ini merupakan salah satu model yang memperhatikan karakteristik peserta didiknya saat membuat kurikulum, model ini sebelum memilih materi diadakan pre-test terlebih dahulu, pre-test tersebut digunakan untuk mengetahui apakah siswa memenuhi persyaratan atau tidak.
Langkah-langkah pelaksanaan model ini adalah:
·         Mementukan tujuan pembelajaran umum atau standar kompetensi dan kompetensi dasar, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam setiap kegiatan pembelajaran;
·         Membuat analisis tentang karakteristik siswa, analisis ini dilakukan agar kita bisa mengetahui segala sesuatu tentang siswa, seperti latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa agar siswa tersebut dapat mengikuti program, juga langkah-langkah yang akan diambil;
·         Menentukan tujuan pembelajaran khusus atau indikator, yaitu tujuan yang spesifik, operasional dan terukur, dengan demikian siswa akan tahu apa yang harus dipelajari, bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa siswa telah berhasil; dari segi guru, rumusan itu akan berguna dalam menyusun tes kemampuan dan pemilihan bahan/materi yang sesuai;
·         Menentukan meteri/bahan pelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus;
·         Menentukan penjajakan awal (pre-assessement) atau pre-test, dilakukan agar mengetahui apakah siswa memenuhi persyaratan untuk mengikuti program pembelajaran, dan kegiatan ini dapat digunakan untuk memilih materi yang perlu diajarkan pada siswa;
·         Menentukan startegi belajar mengajar dan sumber belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus (yaitu: efisiensi, keefektifan, ekonomis, dan kepraktisan) melalui suatu analisis alternatif;

·         Koordinasi sarana penunjang yang diperlukan meliputi: biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga;
·         Mengadakan evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana program pembelajaran tercapai (dari sisi: siswa, program pembelajaran, instrumen evaluasi, dan metode yang digunakan).

2.      Empat pola pembelajaran dilihat dari penggunaan media menurut Barry Mories
1.      Pola pembelajaran tradisional pertama adalah pola pembelajaran dimana guru sebagai pusat dari informasi, dalam pola guru memiliki peranan yang sangat besar dalam proses pembelajaran, siswa hanya sebagai pendengar.
Contohnya: Metode ceramah yang dilakukan guru saat kegiatan belajar mengajar, dimana guru menerangkan pada siswa, sesuai dengan pengetahuan yang guru tersebut ketahui, dan para siswanya mendengarkan apa yang guru jelaskan.

2.      Pola tradisional kedua dalam proses pembelajaran sudah digunakan media sebagai alat bantu dalam menyampaikan informasi kepada siswa, pada pola kedua ini guru sudah memanfaatkan media sebagai alat untuk menyampaikan materi, misalnya guru menggunakan OHP, Flowchart, Media Audio, proyektor dan lain-lain. Namun pada pola ini  guru masih dominan.
Contoh: Guru menerangkan mata pelajaran TIK, metodenya ceramah hamper sama dengan pola tradisional pertama, cuma bedanya guru menggunakan media dengan menunjukkan gambar yang telah disiapkan oleh guru tersebut sebelumnya, gambar/slide persentase tersebut ditunjukkan pada siswa menggunakan OHP atau proyektor dsb.

3.      Pola ketiga adalah pola pembelajaran guru dan media, dalam hal ini guru menyampaikan materi kepada siswa dengan didampingi media. Dalam pola ini presentase guru dan media adalah 50%.
Contoh: guru menerangkan mata pelajaran TIK, dan guru tersebut sudah membuat presentasi mata pelajaran TIK sebelumnya. Dan guru tersebut menunjukkan presentasinya dengan proyektor. Hanya dalam pola ini guru tidak perlu terlalu menjelaskan tidak seperti pola-pola sebelumnya.

4.      Pola keempat adalah pola pembelajaran bermedia, pada pola ini guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi bagi kegiatan pembelajaran para siswa. Akan tetapi siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai media.
Contoh: Pada mata pelajaran TIK guru memerintahkan para siswanya untuk membuat E-Mail, lalu guru tersebut memberikan tugas pada siswanya dengan mengirimkan E-Mail, dan siswa dapat menjawab pertanyaan dengan browsing di internet.
      Menurut saya pola yang paling baik berkenaan dengan penggunaan medianya adalah pola keempat karena disana guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi bagi siswa, siswa di tuntut untuk mencari sendiri bahan-bahan pembelajaran melalui berbagai media.
3…..
4    Menurut saya model yang cocok untuk pelaksanaan KTSP adalah model Pemrosesan Informasi, karena jika kita lihat KTSP disusun dengan memperhatikan:
(1) Peningkatan Iman dan Takwa serta Akhlak Mulia;
(2) Pengembangan Potensi, Kecerdasan, dan Minat sesuai dengan Tingkat Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik;
(3) Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah dan Lingkunganan;
(4) Tuntunan Pembangunan Daerah dan Nasional;
(5) Tuntunan Dunia Kerja;
(6) Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni;
(7) Agama;
(8) Dinamika Perkembangan Global;
(9) Persatuan Nasional dan Nilai-nilai Kebangsaan;
(10) Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat;
(11) Kesetaraan Gender;
(12) Karakteristik Satuan Pendidikan, dan dalam strategi pembelajaran model Pemrosesan Informasi ada mengajar induktif yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan membentuk teori ini sangat sesuai pada acuan nomer (2) yaitu Pengembangan Potensi, Kecerdasan, dan Minat sesuai dengan Tingkat Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik, lalu ada latihan inquiry yang digunakan untuk mencari dan menemukan informasi yang memang diperlukan ini sesuai dengan acuan nomor (8) yaitu Dinamika Perkembangan Global dan nomor , jadi siswa bisa menemukan informasi yang sesuai dan memang diperlukan saat terjadi dinamika perkembangan global. Inquiry keilmuan pada strategi pemrosesan informasi yang bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin ilmu, dan diharapkan akan memperoleh pengalaman dalam dominan-dominan disiplin ilmu lainnya, juga strategi pembentukan konsep yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir induktif, mengambangkan konsep, dan kemampuan analisis ini sesuai dengan acuan nomor (5) yaitu Tuntunan Dunia Kerja, disini peserta didik mendapatkan pengalaman sehingga saat dia bekerja dia sudah mendapatkan pengalaman, selain itu saat si peserta didik bekerja dia dapat menggunakan pemikirannya untuk mengembangkan konsep dan menganalisis pekerjaannya. Model pengembangan yang ber tujuan untuk mengembangkan intelegensi umum, terutama berfikir logis, aspek sosial, dan moral sangat sesuai dengan nomor (1) yaitu Peningkatan Iman dan Takwa serta Akhlak Mulia, nomor (7) yaitu Agama ini sesuai saat peserta didik mengembangkan intelegensi umum pada aspek moral, nomor (3) yaitu Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah dan Lingkunganan, nomor (9) yaitu Persatuan Nasional dan Nilai-nilai Kebangsaan, nomor (10) yaitu Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat, dan nomor (11) yaitu Kesetaraan Gender ini sesuai saat peserta didik mengembangkan intelegensi umum pada aspek sosial. Strategi yang terakhir adalah Advance Organizer Model yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memproses informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubungakan satuan ilmu pengetahuan secara bermakna, ini sangat sesuai dengan acuan nomor (4) yaitu Tuntunan Pembangunan Daerah dan Nasional, dengan strategi ini tuntunan untuk pembangunan daerah dan nasional dapat dilaksanakan sesuai dengan ilmu pengetahuan yanga ada. Juga sesuai dengan nomor (12) yaitu Karakteristik Satuan Pendidikan dan nomor (6) yaitu Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni.

5.      Behavioristic
Behavioristic merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Implikasi dalam penerapan model pembelajaran
Bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Contructivistic
Menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasi informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan itu apabila tidak lagi sesuai. Hakekat dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri.
Implikasi dalam penerapan model pembelajaran.
Pendekatan konstruktivisme dalam pengajaran menekankan pengajaran top down daripada bottom-up. Top down berarti bahwa siswa mulai dengan masalah kompleks untuk dipecahkan dan kemudian memecahkan atau menemukan (dengan bimbingan guru) keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan. Sedangkan pendekatan bottom-up tradisional yang mana keterampilan-keterampilan dasar secara tahap demi tahap dibangun menjadi keterampilan-keterampilan yang lebih kompleks. (Slavin, 1997 dalam Nur dan Retno,2000:7). Sehingga dapat dikatakan bahwa di dalam kelas yang terpusat pada siswa peran guru adalah membantu siswa menemukan fakta, konsep atau prinsip bagi diri mereka sendiri, bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan kelas.

Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan.
Implikasi dalam penerapan model pembelajaran
1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5.  Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

Kognitif
Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental.
      Implikasi dalam penerapan model pembelajaran
      Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu.



Humanistik
      Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. \proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
      Implikasi dalam penerapan model pembelajaran
Guru Sebagai Fasilitator, penjelasan singkatnya:
1.   Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2.   Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.   Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.   Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.   Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.   Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7.   Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.   Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
9.   Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Knowledge Management

PENERAPAN KNOWLEDGE MANAGEMENT PADA PERUSAHAAN REASURANSI Diajukan Dalam Rangka Memenuhi Tugas UAS Mata Kuliah : Knowledge Management Disusun oleh : Hendro Setiadi Wiguna 0805526 JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2011 KATA PENGANTAR Alhamdulilah, atas ijin dan kehendak Allah swt. Kita telah Allah ciptakan dalam wujud manusia yang memiliki kelebihan dibanding  makhluk lainnya, selain itu kitapun bersukur karena kita terlahir kedunia dijaman setelah kerosulan Nabi Muhammad SAW, sehingga kita memeluk agama yang selamat yaitu Islam, lalu kitapun harus bersyukur bahwa  Allah telah menanamkan keimanan dalam dada kita. Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang bersyukur serta memperoleh kemenangan dan kebahagiaan didunia dan akhirat. Amin Salawat  dan salam semoga selamanya senantiasa tercurah limpahkan kepada panutan kita semua, Nabiyulloh Muhammad SAW, kepada keluarga,

Makalah MEMERANKAN MODUL DALAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL

MEMERANKAN MODUL DALAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL Diajukan untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Kapita Selekta TIK Di susun oleh : Hendro Setiadi Wiguna 0805526 JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 201 2 KATA PENGANTAR Alhamdulilah, atas ijin dan kehendak Allah swt. Kita telah Allah ciptakan dalam wujud manusia yang memiliki kelebihan dibanding  makhluk lainnya, selain itu kitapun bersukur karena kita terlahir kedunia dijaman setelah kerosulan Nabi Muhammad SAW, sehingga kita memeluk agama yang selamat yaitu Islam, lalu kitapun harus bersyukur bahwa  Allah telah menanamkan keimanan dalam dada kita. Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang bersyukur serta memperoleh kemenangan dan kebahagiaan didunia dan akhirat. Amin Salawat  dan salam semoga selamanya senantiasa tercurahlimpahkan kepada panutan kita semua, Nabiyulloh Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat dan umat pa